MASIGNASUKAv101
4179705564463353711

Sejarah Baju Koko Di Indonesia [lengkap]

Sejarah Baju Koko Di Indonesia [lengkap]
Add Comments
Sabtu, 02 November 2019
Sejarah Baju Koko Di Indonesia

Sejarah Baju Koko Di Indonesia nyatanya termotivasi dari baju tradisional kalangan Tionghoa di Indonesia.

Baju koko seperti telah jadi seragam tiap hari umat Muslim dikala beribadah. Tidak sedikit pula sekolah- sekolah dari SMP sampai SMA, juga perkantoran, menjadikan baju koko bagaikan seragam harus mereka di hari- hari tertentu. 

Dikala ini, baju koko memanglah identik dengan warga muslim di Indonesia.

Konsumsi dan permintaan terhadap baju koko ditentukan melejit dikala merambah bulan Ramadan dan menjelang hari raya Idulfitri, persis seperti tahun ini. 

Sejauh satu bulan penuh, baju koko jadi primadona lantaran senantiasa dijajakan sangat depan di toko- toko baju. 

Mendekati Lebaran, terdapat saja toko yang mengobral baju koko dengan harga miring.

Baju Koko Dekat Dengan Warga Indonesia


Baju koko memanglah dekat dengan warga muslim tanah air. Tengok saja barisan massa aksi 21- 22 Mei yang memprotes hasil Pemilu 2019 di depan gedung Bawaslu, yang nyaris sebagian besar mengenakan baju koko.

Kalau menengok ke belakang lagi, pada Februari 2018 lalu, tren baju koko pernah jadi pembicaraan warganet di jagat media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook. Perihal itu dipicu oleh kemunculan film superhero“ Black Panther.”

Warganet begitu teliti memerhatikan kostum yang dipakai para pemeran dalam film tersebut. Dari sederet kostum Black Panther, salah satu kostum yang nampak menarik merupakan kostum yang dikenakan oleh kepribadian Tchalla, Si Raja Wakanda. Kostum itu diklaim mirip seperti baju koko.

Semenjak kehebohan itu, kostum yang dikenakan T’ Challa itu kesimpulannya pernah jadi tren mode lebaran tahun 2018. Beberapa toko baju online apalagi dengan kilat menjual baju koko ala Black Panther tersebut.

Meski kostum T’ Challa itu dikira mirip dengan baju koko, tetapi kostum itu kabarnya termotivasi dari baju tradisional Afrika yang bernama agbada, baju laki- laki yang biasa dikenakan oleh warga Nigeria di Afrika Barat. Baju ini umumnya dipakai oleh orang- orang terkenal seperti raja dan kepala suku.

Baju ini juga sesungguhnya cuma dikenakan dikala kegiatan seremonial saja seperti perkawinan ataupun pemakaman. Desainer dalam film Black Panther, Ruth Carter, memanglah menghasilkan mantel cutaway bersumber pada desain pada abad ke- 18 dengan hiasan di bagian depan dan potongan lengan bergaya Nigeria.

Bicara soal baju koko, tampaknya tidak banyak yang ketahui menimpa asal usul baju tersebut. Apakah betul sepanjang ini baju koko murni ialah baju umat Muslim di Indonesia? Ataupun ialah modifikasi dari jenis baju di masa kemudian dengan sentuhan modern?

Sejarah Baju Koko Di Indonesia


Baju koko nyatanya termotivasi dari baju tradisional kalangan Tionghoa di Indonesia. Pada dasarnya, baju koko memanglah bukan murni berasal dari style berpakaian warga Indonesia yang sampai hari ini begitu menempel digunakan nyaris tiap hari dikala beribadah.

Baju koko ialah baju tradisional warga Tionghoa secara turun temurun, yang diketahui dengan nama Tui- Khim. Sedangkan warga Betawi memahami baju tersebut dengan istilah baju Tikim, ialah bukaan di tengah dengan 5 kancing. Oleh warga Betawi, baju koko umumnya dipadukan dengan celana batik.

Sampai dini abad ke- 20, laki- laki Tionghoa masih memakai busana Tui- Khim dan celana bermodel longgar buat aktivitas tiap hari. Lebih rinci soal penyebutan baju itu bagaikan baju koko, sempat dipaparkan oleh budayawan Indonesia, Remy Sylado.

Dalam novel karya Remy Sylado, yang bertajuk‘ Novel Pangeran Diponegoro: Mengarah Wujud Khilafah’ yang diterbitkan pada 2008 itu, Remy menarangkan asal muasal penyebutan baju koko dari baju Shi- Jui yang mirip piama dan dipakai oleh orang Tiongkok.

“ Baju logro bahan sutra putih yang umumnya diucap shi- jui. Sebab yang memanfaatkannya terpanggil engkoh- engkoh, ialah istilah universal untuk lelaki Tiongkok yang lebih tua, hingga baju ini juga diucap baju engkoh- engkoh. Dieja bahasa Indonesia saat ini jadi baju koko,” demikian bagian dari tulisan novel karya Remy.

Tetapi, masa kejayaan baju tui- khim sendiri pernah meredup. Bagi pengamat budaya Tionghoa peranakan, David Kwa, seperti dinukil dari Historia, baju tui- khim, celana komprang, dan thng- sa mulai tidak lagi dipakai oleh orang- orang Tiongkok sendiri dan berubah dengan baju style Eropa ataupun Belanda, kemeja, pantalon, dan jas buka dan jas tutup, paling utama semenjak berdirinya Tiong Hoa Hwe Koan( THHK) ataupun Perhimpunan Tionghoa–perhimpunan modern awal di Hindia Belanda pada 1900; setelah itu runtuhnya Dinasti Cheng( Mancu) pada 1911; dan kian banyaknya laki- laki Tiongkok yang diperbolehkan memakai baju Belanda sehabis mengajukan gelijkstelling( persamaan hak dengan masyarakat Eropa).

Setelah itu, semenjak pemerintahan Orde Baru berkuasa sampai 1980- an, Soeharto pernah mempersempit ruang gerak Islam, tercantum juga simbol- simbol keislaman. 

Perihal itu dikira Soeharto dapat mengusik sofa kekuasaannya. Walaupun begitu, semenjak dekade 1990- an,“ politik akomodasi Islam” pernah hidup. 

Di mana bermacam faktor Islam memperoleh peluang yang luas dalam struktur negeri dan ruang publik.

Terdapat paling tidak 4 jenis akomodasi yang timbul kala itu, salah satunya merupakan akomodasi kultural, di mana ekspresi kultural Islam mulai diterima ke dalam wilayah- wilayah publik. Misalnya saja seperti konsumsi hijab, baju koko, sampai perkataan assalamu’ alaikum.

Kemudian, pelan- pelan semenjak saat itu sampai hari ini, konsumsi baju koko terus terjalin dan jumlahnya terus menjadi banyak. 

Dari sisi desain, baju koko dikala ini nampak terus menjadi minimalis dengan hiasan bordirnya yang mempesona. 

Baju koko yang dijual di pasaran juga mempunyai bermacam- macam corak diawali dari corak putih, abu- abu, cokelat, sampai gelap. 
Octopus

Penyedia jasa konveksi pembuatan kaos, jaket, polo dengan kualitas yang terbaik yang berlokasi di Yogyakarta